Jumat, 30 Oktober 2015

Cerpen Nasehat Renta



Nasihat Renta
Oleh : Anik Suliatri
Mentari perlahan redup kembali keperaduannya. Semilir angin berbisik parau membawa hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Hewan-hewan ternak pulang ke kandangnya. Wajah-wajah lusuh, bukti perjuangan nampak sekilas dari mereka yang sedang menunaikan rukun islam yang keempat. Umat muslim tengah berjuang melawan segala hawa nafsu dan senja menunjukan perjuangan akan berakhir setelah azan di kumandangkan.
Di serambi rumah, sejenak kuteliti satu persatu geliat tingkah mereka yang disibukan persiapan berbuka puasa. Bulan yang istimewa, dimana amal perbuatan dilipat gandakan pahalanya.
Bulan Ramadhan adalah bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan dia tidak berpuasa , maka wajib menggantinya sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya jika ia mengetahui. Allah menghendaki kemudahan dan tidak  menghendaki kesungkaran bagi hambaNya.
 Subhanaullah, begitu indah Islam mengajarkan kebajikan bagi umatnya. Gumamku dalam hati.    
“ Aulia.” panggil ibu memecahkan lamunanku.
“Iya,bu.” Sahutku cepat, lalu berlari menuju ruang makan yang tak jauh dari serambi.
“Antarkan kue dan es ini ke rumah mbah Inten .“ perintah ibu lirih.
“Baik, bu.” Jawabku singkat, lekas berangkat.
Mbah Inten. Ya, itu sapa penduduk kampung kepada beliau. Sosok tua itu hidup hanya sebatang kara, tidak ada sanak saudara. Dalam hidupnya, ia tak pernah menikah. Melewati hari demi hari seorang diri. Entah tak pernah kubayangkan, betapa kesepiannya. Seikat daun ubi cukup menopang hidup. Pasar menjadi tempat tujuan menjajaki dagangan yang tak seberapa itu.
Tak perlu lama sampai di rumah mbah Inten. Terlihat rumah tua yang semakin rapuh dimakan oleh usia. Dinding yang terbuat dari anyaman bambu di tengah peradaban zaman, terseliplah rumah tua yang sempit, hampir tak terlihat. Halaman rumah penuh dedaunan jambu bergelimpangan liar kesana kemari. Rumput ilalang sebagai atap. Beberapa tumpukan batu dan kayu di depan pintu menghalangi langkahku. Tak pelak menghalangi naitku.
“Assalamualaikum.” Sapaku lirih, mengetuk pintu beberapa kali.
“Wa’alaikumsalam.” sahut suara dari dalam menjawab.
“Ada apa, ndok ?” tambah mbah Inten, membukakan pintu.
“Ini mbah, ada sedikit  rizki dari bapak dan ibu di rumah. Silahkan diterima.” Ucapku, memberikan beberapa potong kue dan segelas es campur.
“Masyaallah,ndok. Tak perlu repot-repot. Mbah tiap hari diberi makanan dan minuman, tiap kali orangtuamu sehabis gajian, pasti mereka membelikan mbah pakaian, bahkan tidak jarang mereka memberi mbah uang. Mbah tidak punya apa-apa untuk membalasnya.” Lontar beliau dengan kalimat menolak sembari merundukkan kepala.
“Tidak apa-apa mbah. Silahkan diterima saja, ini rizki dari Allah, tidak baik menolaknya .“ tangkas ku cepat agar beliau tidak menolak lagi.
“Iya, mbah terima. Terimakasih ndok. Sampaikan pada orangtua mu, selamat berbuka puasa .“ Tangan keriput itu mulai mengambil sepiring kue dan segelas es dari tangan ku.
“Iya mbah, nanti saya sampaikan. Assalamuaikum.”Sahutku, lekas keluar rumah.
“Wa’alaikumsalam.” Tersenyum seolah banyak makna yang tidak aku tahu.
Sesekali aku melihat ke belakang. Rumah persegi tanpa jendela. Entah berapa lama ia mampu bertahan. Sebarapa kuat menahan terpaan angin. Kekokohan kayu penopang atap semakin rentang. Bukan tidak ada kebijakan dari pemerintah, sudah terlalu sering warga menghimbau, bahkan ada yang menawarkan untuk tinggal dirumahnya. Namun, beliau tetap tidak meninggalkan rumahnya itu.
Menghela nafas, tersenyum, mengagumi sosok ini. Apa yang membuatnya sangat mencintai rumah itu hingga tidak pernah meninggalkannya walau semalam. Gumamku dalam hati.
           

Langit cerah dan bintang gemintang mencumbu bulan menghiasi atap bumi. Ramai malam dengan pujian-pujian mengagungkan nama Allah. Didengungkan lafas al-qur’an menyentuh hati setiap insan yang mendengar. Sedari tadi, jiwa terpanggil menuju perpaduan rumah sang Ilahi. Orang-orang dengan langkah seribu, bergerombol sembari tawa ceria memecah di sepanjang jalan setapak. Yang muda dan tua pun bersatu dalam bahasan bahasa sehingga tidak ada beda di antaranya.
Pintu pagar rumah berderit seperti biasa ketika Rahma menguak pelan-pelan.
“Aulia.” Panggil sahabatku.
Tanpa berfikir panjang, kami bergegas bergabung dengan remaja lain menuju masjid. Azan telah di kumandangkan. Shaf  wanita telah rapi semua telah berbalut mukena dan sajadah telah di gelar. Takbir, rukuk, sujud, usailah beberapa reka’at. Setiap jiwa khusu’ di dalamnya. Rob benar-benar hidup dalam hati hambaNya.
Berlanjut, tadarus malam. Para remaja masjid dan beberapa senior berkumpul untuk memusyawarahkan acara bakti sosial remaja masjid. Kali ini, kang Avid yang memimpin. Satu persatu anggota telah mengemukakan persepsinya. Disepakati bakti sosial dilakukan minggu ini setelah dana sumbangan sudah terkumpul. Dana ini akan dibelikan kebutuhan sembako yang akan diberikan kepada masyarakat yang kurang mampu. Pembagian tugas, setiap dua orang memberikan sedekah pada satu rumah. Aku dan Rahma mendapat tugas untuk memberikan sembako ke rumah mbah Inten.
Hmmm,teringat pertanyan yang belum terjawab dengan puas. Hal ini semakin membuat keinginan ku mengetahui alasan mbah Inten yang tidak pernah mau meninggalkan rumahnya.


Keesokan hari sepulang sekolah, aku dan teman-teman yang lain bersiap-siap untuk membagikan sembako. Setibanya di rumah mbah Inten, kami di sambut ramah oleh beliau. Sosok tua itu mempersilahkan masuk dan duduk.
Lantai beralaskan tanah dengan permadani tikar lusuh menjadi pemandangan ruangan itu. Kembali kusisir pandangan, terlihat di setiap sudut rumah yang terisi buntelan plastik tanpa isi. Ruangnya pun tanpa meja dan kursi, hanya terdapat ranjang reot bermahkota bantal yang kumal di sebelah kanan sudut. Serta satu lemari kecil dan lapuk di sampingnya. Sebelah kiri, damar tua yang tak ku tahu pasti usianya tergantung didinding. Gambar ka’bah dan beberapa kaligrafi yang tak kalah muram bertengger diatasnya. Sempat tercuri oleh mataku, atap rumah yang bocor tepat di atas ranjang tidur.
Tanpa komando benakku bertanya, bagaimana seseorang bisa tidur saat hujan turun? pastilah air menetes mengganggu istirahatnya. Belum lagi, saat angin kencang menerpa dinding-dinding rumah. Dapat dipastikan, rasa khawatir menghantui. Mengingat beberapa gelondongan kayu penyanggah atap mulai lelah. Melihat dalam diam, tampak merenung, sesekali menyimpan iba, tapi berikutnya kosong dan berkelebat kilat mesterius yang tak dimengerti.
Sudahlah, agak mengabaikan rasa simpati dan mengambil alih dari sudut pandang empati.
Senyum itu kembali menghiasi wajah seolah penuh makna yang tidak aku ketahui.   
“Kalau aku mau, aku dapat menikmati makanan terbaik dan pakaian terindah. Tetapi aku sisakan kesenanganku untuk hari akhir.” Dengan wajah bebinar tanpa lelah, cukup untuk menjawab pertanyaan ku.
 “Mengapa menangis,ndok ?” Lanjut beliau.
 “Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh mu. Engkau orang baik. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Padahal ditempat sana, Kisra dan Kaisar duduk di atas kistal emas, berbantal sutra.” Banyak tanya muncul seolah tidak percaya.
 “Mereka telah menyegarakan kesenangannya sekarang juga, kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir kita. Perumpamaanku dengan dunia seperti seseorang yang berpergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak dibawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya.” Jelas beliau.
“Jadilah engkau di dunia laksana orang asing atau orang yang menyebrangi jalan. Bila engkau berada di sore hari, maka jangan menunggu datangnya pagi dan bila engkau di pagi hari, maka jangan menunggu datangnya sore. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum sakitmu dan waktu hidupmu sebelum matimu[1]. Itulah yang dicontohkan Rasulullah kepada kita. ” Tambahnya.
  Menghela nafas dan saling pandang. Rahma memegang pundakku, mencoba menghibur.
Secara tersirat terjawab sudah pertanyaan ku dengan sangat memuasakan. Hidup sederhana bukan berarti hidup susah dan senang menderita, melainkan mengerti mana keinginan dan mana kebutuhan..Orang bersahaja menyadari bahwa hasrat tidak akan pernah puas karena diperturutkan. Gaya hidup ini tidak berarti menjahui kesenangan dunia, tapi menyadari bahwa setiap kesenangan pasti akan dipertanggung jawabkan.
                                                                                                                                                                                                           




[1]  (h.r. Bukhari).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar