Nasihat
Renta
Oleh : Anik
Suliatri
Mentari
perlahan redup kembali keperaduannya. Semilir angin berbisik parau membawa hawa
sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Hewan-hewan ternak
pulang ke kandangnya. Wajah-wajah lusuh,
bukti perjuangan nampak sekilas dari mereka yang sedang menunaikan rukun islam
yang keempat. Umat muslim tengah berjuang melawan segala hawa nafsu dan senja
menunjukan perjuangan akan berakhir setelah azan di kumandangkan.
Di
serambi rumah, sejenak kuteliti satu persatu geliat tingkah mereka yang disibukan
persiapan berbuka puasa. Bulan yang istimewa, dimana amal perbuatan dilipat
gandakan pahalanya.
Bulan
Ramadhan adalah bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk
bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara
yang benar dan yang batil. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan dia
tidak berpuasa , maka wajib menggantinya sebanyak hari yang ditinggalkannya itu
pada hari-hari lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang
miskin dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya
jika ia mengetahui. Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesungkaran bagi hambaNya.
Subhanaullah, begitu indah Islam mengajarkan
kebajikan bagi umatnya. Gumamku dalam hati.
“
Aulia.” panggil ibu memecahkan lamunanku.
“Iya,bu.”
Sahutku cepat, lalu berlari menuju ruang makan yang tak jauh dari serambi.
“Antarkan
kue dan es ini ke rumah mbah Inten .“ perintah ibu lirih.
“Baik,
bu.” Jawabku singkat, lekas berangkat.
Mbah
Inten. Ya, itu sapa penduduk kampung kepada beliau. Sosok tua itu hidup hanya
sebatang kara, tidak ada sanak saudara. Dalam hidupnya, ia tak pernah menikah.
Melewati hari demi hari seorang diri. Entah tak
pernah kubayangkan, betapa kesepiannya. Seikat
daun ubi cukup menopang hidup. Pasar menjadi tempat tujuan menjajaki dagangan
yang tak seberapa itu.
Tak
perlu lama sampai di rumah mbah Inten. Terlihat rumah tua yang semakin rapuh dimakan
oleh usia. Dinding yang terbuat dari anyaman bambu di tengah peradaban zaman,
terseliplah rumah tua yang sempit, hampir tak terlihat. Halaman rumah penuh
dedaunan jambu bergelimpangan liar kesana kemari. Rumput ilalang sebagai atap.
Beberapa tumpukan batu dan kayu di depan pintu menghalangi langkahku. Tak pelak
menghalangi naitku.
“Assalamualaikum.”
Sapaku lirih, mengetuk pintu beberapa kali.
“Wa’alaikumsalam.”
sahut suara dari dalam menjawab.
“Ada
apa, ndok ?” tambah mbah Inten,
membukakan pintu.
“Ini
mbah, ada sedikit rizki dari bapak dan
ibu di rumah. Silahkan diterima.” Ucapku, memberikan beberapa potong kue dan
segelas es campur.
“Masyaallah,ndok. Tak perlu repot-repot. Mbah tiap
hari diberi makanan dan minuman, tiap kali orangtuamu sehabis gajian, pasti
mereka membelikan mbah pakaian, bahkan tidak jarang mereka memberi mbah uang. Mbah
tidak punya apa-apa untuk membalasnya.” Lontar beliau dengan kalimat menolak
sembari merundukkan kepala.
“Tidak
apa-apa mbah. Silahkan diterima saja, ini rizki dari Allah, tidak baik
menolaknya .“ tangkas ku cepat agar beliau tidak menolak lagi.
“Iya,
mbah terima. Terimakasih ndok.
Sampaikan pada orangtua mu, selamat berbuka puasa .“ Tangan keriput itu mulai
mengambil sepiring kue dan segelas es dari tangan ku.
“Iya
mbah, nanti saya sampaikan. Assalamuaikum.”Sahutku, lekas keluar rumah.
“Wa’alaikumsalam.”
Tersenyum seolah banyak makna yang tidak aku tahu.
Sesekali
aku melihat ke belakang. Rumah persegi tanpa jendela. Entah berapa lama ia
mampu bertahan. Sebarapa kuat menahan terpaan angin. Kekokohan kayu penopang
atap semakin rentang. Bukan tidak ada kebijakan dari pemerintah, sudah terlalu
sering warga menghimbau, bahkan ada yang menawarkan untuk tinggal dirumahnya.
Namun, beliau tetap tidak meninggalkan rumahnya itu.
Menghela
nafas, tersenyum, mengagumi sosok ini. Apa
yang membuatnya sangat mencintai rumah itu hingga tidak pernah meninggalkannya
walau semalam. Gumamku dalam hati.
Langit
cerah dan bintang gemintang mencumbu bulan menghiasi atap bumi. Ramai malam
dengan pujian-pujian mengagungkan nama Allah. Didengungkan lafas al-qur’an
menyentuh hati setiap insan yang mendengar. Sedari tadi, jiwa terpanggil menuju
perpaduan rumah sang Ilahi. Orang-orang dengan langkah seribu, bergerombol
sembari tawa ceria memecah di sepanjang jalan setapak. Yang muda dan tua pun
bersatu dalam bahasan bahasa sehingga tidak ada beda di antaranya.
Pintu
pagar rumah berderit seperti biasa ketika Rahma menguak pelan-pelan.
“Aulia.”
Panggil sahabatku.
Tanpa
berfikir panjang, kami bergegas bergabung dengan remaja lain menuju masjid.
Azan telah di kumandangkan. Shaf wanita
telah rapi semua telah berbalut mukena dan sajadah telah di gelar. Takbir,
rukuk, sujud, usailah beberapa reka’at. Setiap jiwa khusu’ di dalamnya. Rob
benar-benar hidup dalam hati hambaNya.
Berlanjut,
tadarus malam. Para remaja masjid dan beberapa senior berkumpul untuk
memusyawarahkan acara bakti sosial remaja masjid. Kali ini, kang Avid yang memimpin.
Satu persatu anggota telah mengemukakan persepsinya. Disepakati bakti sosial
dilakukan minggu ini setelah dana sumbangan sudah terkumpul. Dana ini akan dibelikan
kebutuhan sembako yang akan diberikan kepada masyarakat yang kurang mampu.
Pembagian tugas, setiap dua orang memberikan sedekah pada satu rumah. Aku dan
Rahma mendapat tugas untuk memberikan sembako ke rumah mbah Inten.
Hmmm,teringat pertanyan yang belum
terjawab dengan puas. Hal ini semakin membuat keinginan ku mengetahui alasan
mbah Inten yang tidak pernah mau meninggalkan rumahnya.
Keesokan
hari sepulang sekolah, aku dan teman-teman yang lain bersiap-siap untuk
membagikan sembako. Setibanya di rumah mbah Inten, kami di sambut ramah oleh
beliau. Sosok tua itu mempersilahkan masuk dan duduk.
Lantai
beralaskan tanah dengan permadani tikar lusuh menjadi pemandangan ruangan itu. Kembali
kusisir pandangan, terlihat di setiap sudut rumah yang terisi buntelan plastik tanpa isi. Ruangnya pun
tanpa meja dan kursi, hanya terdapat ranjang reot bermahkota bantal yang kumal di
sebelah kanan sudut. Serta satu lemari kecil dan lapuk di sampingnya. Sebelah
kiri, damar tua yang tak ku tahu pasti usianya tergantung didinding. Gambar
ka’bah dan beberapa kaligrafi yang tak kalah muram bertengger diatasnya. Sempat
tercuri oleh mataku, atap rumah yang bocor tepat di atas ranjang tidur.
Tanpa
komando benakku bertanya, bagaimana seseorang bisa tidur saat hujan turun?
pastilah air menetes mengganggu istirahatnya. Belum lagi, saat angin kencang
menerpa dinding-dinding rumah. Dapat dipastikan, rasa khawatir menghantui.
Mengingat beberapa gelondongan kayu penyanggah atap mulai lelah. Melihat dalam
diam, tampak merenung, sesekali menyimpan iba, tapi berikutnya kosong dan
berkelebat kilat mesterius yang tak dimengerti.
Sudahlah,
agak mengabaikan rasa simpati dan mengambil alih dari sudut pandang empati.
Senyum
itu kembali menghiasi wajah seolah penuh makna yang tidak aku ketahui.
“Kalau
aku mau, aku dapat menikmati makanan terbaik dan pakaian terindah. Tetapi aku
sisakan kesenanganku untuk hari akhir.” Dengan
wajah bebinar tanpa lelah, cukup untuk menjawab pertanyaan ku.
“Mengapa menangis,ndok ?” Lanjut beliau.
“Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah
menimbulkan bekas pada tubuh mu. Engkau orang baik. Kekayaanmu hanya yang aku
lihat sekarang ini. Padahal ditempat sana, Kisra dan Kaisar duduk di atas
kistal emas, berbantal sutra.” Banyak tanya muncul seolah tidak percaya.
“Mereka telah menyegarakan kesenangannya
sekarang juga, kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang
menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir kita. Perumpamaanku dengan dunia
seperti seseorang yang berpergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak dibawah
pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya.” Jelas beliau.
“Jadilah
engkau di dunia laksana orang asing atau orang yang menyebrangi jalan. Bila
engkau berada di sore hari, maka jangan menunggu datangnya pagi dan bila engkau
di pagi hari, maka jangan menunggu datangnya sore. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum sakitmu dan waktu hidupmu sebelum
matimu[1].
Itulah yang dicontohkan Rasulullah kepada kita. ” Tambahnya.
Menghela
nafas dan saling pandang. Rahma memegang pundakku, mencoba menghibur.
Secara
tersirat terjawab sudah pertanyaan ku dengan sangat memuasakan. Hidup sederhana
bukan berarti hidup susah dan senang menderita, melainkan mengerti mana
keinginan dan mana kebutuhan..Orang bersahaja menyadari bahwa hasrat tidak
akan pernah puas karena diperturutkan. Gaya hidup ini tidak berarti menjahui
kesenangan dunia, tapi menyadari bahwa setiap kesenangan pasti akan
dipertanggung jawabkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar