Sabtu, 31 Oktober 2015

cerpen lembayung jingga



Lembayung Jingga, Mawar Merah dan Dia
Oleh : Anik Suliatri
Awan gelap telah menyelimuti segenap cakrawala bersama angin dingin membekukan suasana. Sepi dan sunyi. Pepohonan mulai kuyup oleh gemercik bulir-bulir langit yang mengalun berirama disetiap tetesnya. Aroma tanah basah menyeruak sampai disudut ruang yang tercuri olehku.
Arloji masih menunjukan pukul 07:00. Aku terbangun lebih awal pagi ini. Dengan tubuh gontai ku langkahkah kaki menuju jendela ruang yang usai dihiasi. Kusisir pandangan kearah yang berbeda diberbagai sudut. Sebagian orang berlarian menuju tenda untuk berteduh, yang lain lagi sibuk menata jamuan dan beberapa pas bunga dipelataran yang siap menyambut tamu terhormat. Semua orang sibuk. Ahh, gerimis pagi ini membuatku ingin menjelajahi sejenak akan gerimis langit jingga disudut sekolah.
                                                                        *****                                     
“Tak peduli segelap apapun ia, semarah apapun ia, sesuram apapun ia, setelah menumpahkannya pada perut bumi kemudian menghibur penikmatnya pada guratan indah diwajahnya. Saat derapnya mulai redup, lembayung jingga mulai menampakkan diri, indah bukan ?. Ada yang mengartikannya sebagai anugrah pun ada yang menganggapnya sebagai musibah. Namun hujan tetaplah air suci yang tidak bisa disalahkan oleh hardik insan yang tak mengharapkan hadirnya. Aku tak peduli karena ia akan menghadirkan pada yang ku suka. Kusebut ia lebayung jingga” gumam lelaki yang tak ku tau asalnya, berdiri tepat disebelahku ikut menikmati gerimis senja.
“Belum pulang ? terjebak hujan ?”. lanjutnya.
Kubalas senyum setelah beberapa anggukan mengiyakannya.” Ahh,hujan. Aku sama sekali tak menyukainya” ocehku dalam hati.
Aku masih tertegun mengingat seluruh siswa telah pulang dan hanya kami berdua disana. Bersama orang yang tak kukenal membuat ku beberapakali memikirkan hal buruk dengan tatap yang penuh curiga. Beberapa langkah aku menjauh darinya dengan sedikit mengerutkan keningku, berharap hujan cepat berlalu.
 “Aku tidak akan berani” ujarnya seolah tau apa yang kufikirkan. Benar juga.
Aku masih terdiam.
“Nama ku Reno, sekelas denganmu sejak tiga hari yang lalu.” Jelasnya memperkenalkan diri.
            Aku terbingungkan, sejak kapan ada anak baru dikelasku.
            “Itu juga yang ku herankan, kenapa hanya kamu yang tak  menyadari kehadiran orang ganteng yang penuh pesona ini ? hehe...” sedikit tertawa menyeringai.
            Kali ini ia hanya mendapati tatapan kosong dariku yang entah mata ini mengarah kemana. Masih terdiam.
            “Wah, keren. Lihatlah, langit seolah mengetahui isi hati ku saat ini. Memang sangat indah, ku akui” cerocosnya tak henti melihat kearah langit meski tak mendapati jawab dariku.
            “Dibawah hanya ada lantai dan jejak kaki. Jangan menutup mata hanya karena gemuruh dan suara suramnya. Dunia akan terlihat indah setelah kamu benar-benar menerimanya sebagai anugrah. Coba saja seperti hujan ini, setelahnya akan ada pelangi yang siap membuatmu terkagum. Hanya butuh sedikit perhatianmu” tambahnya berharap ia menemukan wajahku yang tertutupi halai kain dikepalaku.        
“Senang berkenalan denganmu, lembayung jingga.”
Kali ini ia benar-benar telah menutup percakapannya sendiri. Konyol , fikirku. Sesaat suaranya tenggelam bersama irama bulir bening yang menakutkan bagiku. Lenyap entah kemana. Aku tak tau. Aku tak peduli.
Derap hujan mulai terhenti. Angin menyibak awan gelap diatas sana. Samar-samar si biru datang mengalahkan kesuramannya. Beberapa detik bertambah beberapa warna lagi berdamping dengan biru. Mata ku terberkedip dibuatnya. Benar saja. Dibawah langit senja aku bertemu lembayung jingga yang menjadi bait puisi pertamaku.
Aku mulai tersadar dan bertanya “siapa lembayung jingga tadi ?”. Sontak mata mencari keseluruh sudut sekolah, kaki berlari menelusuri lorong-lorong berharap ia muncul kembali. Semua telah berlalu, jejaknya tak kudapati lagi.
 Dengan kecewa ku ajak kaki keluar gerbang sekolah. Sesekali ku pandangi baris nama yang tersusun rapi yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi kebanyakan siswa bahkan tak jarang membuat sebagiannya iri. “SMA NEGERI 1 BELITANG” sebuah nama yang dapat kamu lihat tepat dipintu masuk sekolah. Merupakan sekolah unggulan dikabupaten kami. Aku bersyukur menjadi salah satu diantara ribuan yang menimba ilmu disini. Tiap kali masuk dan keluar sekolah ku pandangi nama itu berlama-lama. Hampir menjadi ritual tersendiri bagiku mengingat betapa beruntungnya aku.
                                                                        *****                                     
            “flowers”. Suara yang terdengar diluar pagar rumah menyapa pagiku padahal arloji masih menunjukan pukul 05:30. Seperti biasa setangkai bunga mawar dan koran langganan ayah terdapat disana. Entah siapa yang meletakannya. Bukan, yang ku maksud hanya bunga mawar.
Betapa konsistennya ia setiap pagi dan selama tiga tahun terakhir ini bunga mawar selalu menyapa pagiku. Andai saja dia yang melakukannya. Rasanya tak mungkin dia menjadi penganggum rahasiaku. Justru sebaliknya, akulah yang mengaguminya. Diam-diam aku mulai memperhatikannya. Dia yang kutemui pertamakali saat perkenalan siswa baru SMP NEGERI 3 BELITANG MULYA. Kamipun bersekolah di SMA yang sama. Tapi sepertinya hanya aku yang menganggapnya lebih dari sekedar sahabat. Dibanding denganku ia jauh lebih dekat dengan sahabat ku, Nana. Mungkin ada benih cinta diantara mereka.
Aku harus menahan cemburuku saat mendapati mereka ngobrol begitu asyiknya seolah hadirku tak dirasakan. Mereka sering mengajakku pergi belajar bersama diperpustakaan, makan bareng, nonton film kesukaan kami, berorganisasi yang sama, berangkat dan pulang sekolah bersama atau sekedar mendengar musik yang sama. Hampir semua kami lakukan bersama, bertiga dan aku diantara mereka.
Rasa sakit ini mengajarkanku arti persahabatan yang sebenarnya. Aku memilih diam untuk kedua orang sahabat yang kucintai dan ku tak ingin kehilangan mereka. Cukup menjadi sahabatnya untuk berada disamping lebih dekat dan melakukan segala hal bersama.Yaa, karena waktu cepat berlalu saat aku bersamanya. 
Terkadang aku ingin waktu cepat berlalu agar aku bisa jauh dari rasa sakitnya hari kemarin saat tak sengaja ku melihat ia memeluk Nana dan memegang tanganya erat seoalah tak ingin terpisahkan. Hatiku bergetar hebat, langkahku tak terarah, pandangan mulai kunang-kunang, seluruh tubuh mati rasa, masih kulihat dia pergi menjauh dari bersama Nana. Gelap dan semua hilang.
                                                                        *****                                                 
“Di, Diana, Di “ tak yakin seperti suara lembayung jingga samar-samar terdengar terus memanggil namaku. Perlahan mata benar-benar terbuka yang ku dapati ayah dan ibu yang terus memanggil namaku. Mungkin itu hanya ilusi berharap ada orang yang benar-benar mengerti perasaaanku.
Aku ingin cepat bertemu hari esok untuk memulai harapan baru. Hingga hari-hari berlalu dan rasa inipun semakin membuncah. Cinta, rindu, kecewa, bahagia, sakit, menangis, semua. Pada akhirnya aku sadar tak ada waktu yang tepat untuk memualai asa sebelum sembuhnya luka. Semua masih membekas. Aku memilih mendiamkan kisah ini. Kisah yang menyakitkan dan cukup dikenang. Mencintaimu dalam diamku.
                                                                        *****                                     
Kucari titik terang saat angin minggila lewat suara sumbangnya. Betapa bergairahnya ia mengabarkan luka. Berlalunya waktu tak pula menghapus luka. Hanya pergi sejenak saja sejak saat itu.
Ku raih selembar kertas diataas meja hias yang tak jauh dari ranjangku. Tertulis nama “Reno dan Nana” dua sahabat ku hari ini akan mengucap janji sehidup semati. Hari ini hari pernikahannya. Tenda dipelataran rumah yang kulihat adalah tenda pernikahan mereka didepan rumah Nana yang hanya bersebelahan dengan rumahku.
Tak peduli gerimis pagi ini, mawar-mawar merah tetap mekar menghiasasi tenda mereka. Mawar merahku pun hilang. Tak pernah lagi ada mawar merah dipagar. Lembayung jingga yang tak ku tau siapa dia dan dimana dia. Hanya hari itu saja aku bertemu dengannya yang menjadi penyesalanku adalah aku yang tak melihat wajahnya. Ahh, sudahlah.
“Diana, kok belum siap-siap ?” suara Nana tiba-tiba memecahkan lamunanku.
“Iya, ini mau ganti baju” jawab ku terbata.
“Itu baju pengantinnya kok belum di pakek ?” tanya ku keheranan.
“hehe... iya. Aku takut bajunya gk cocok dibadan ku Di” keluhnya dengan wajah murung.
“Mau ya Di kamu coba baju pegantinnya dulu, biar ku lihat bagian mana yang harus ku perbaiki” dalihnya memaksa ku.
Yang benar saja aku harus mengenakan baju pengantin Nana. Ya Allah, beri aku kekuatan. Ku tahan kuat-kuat saat genangan air hampir menutupi mata ku. Sesekali ku usap tanpa sepengetahuan Nana. Haruskah aku mengabulkan permintaan sahabatku meski menambah perih hati ini.       
“Tidak, tapi kamu harus memakainya karena kamu pengantin wanitanya. Hari ini adalah hari pernikahanmu dan Reno” sontak membuatku terkejut mendengar kalimat itu dari Nana.
“Reno selama ini diam-diam memerhatikanmu. Dia yang menemani mu saat semua anak sudah pulang sekolah di sore itu, langit senja. Dialah lembayung jingga. Dia mengajak ku ke perpustakaan hanya untuk mendengar cerita masa kecil mu dariku. Setiap pagi dia bangun jam 05:00 untuk datang kerumahmu membawa setangkai bunga mawar yang ia tanam dan rawat sendiri ditaman rumahnya. Tepat jam 05:30 ia meletakkan mawar-mawar itu setelah tukang koran mengantarkan koran kepada langganannya. Aku hanya menjadi alasan Reno untuk dekat denganmu. Pergi belajar bersama diperpustakaan, makan bareng, nonton film kesukaan mu, dan dihari kamu pingsan. Dia bukan memelukku tapi memapahku berjalan karena aku baru jatuh dari tangga. Setelah melihat kamu terjatuh pingsan, dia berlari kearahmu dan membopongmu ke UKS sampai kedua orangtuamu datang kemudian dia lekas pergi. Semua yang kita lakukan bersama adalah usahanya untuk mendekatimu hingga sebulan yang lalu ia datang kepada kedua orangtua mu untuk meminangmu dan merencanakan kejutan pernikahan ini untukmu. Tentu saja kamu tidak tau karena kami sengaja merahasiakannya darimu.  Hari ini mawar-mawar itu bermekaran dan pelangi hadir ditengah-tengah kalian untuk ikut merayakan hari jadi kalian. Aku tak menaruh rasa apapun pada Reno. Kamu dan Reno adalah sahabatku.” Jelas Nana membuatku semakin terkejut.
Tak percaya atas apa yang terjadi. Air mata ku mengalir deras tak tertahankan lagi. Aku menangis sejadi-jadinya. Kebahagiaan bisa datang dari mana saja bahkan pada jalan yang tak terduga. Berhentilah berandai-andai dan menyesali hal yang tak kamu inginkan. Karena tak peduli dari mana asalnya, cinta itu ada disekelilingmu. Mawar merah, lembayung jingga, dan sahabat yang ku sayangi adalah dia, suamiku. 
#Indralaya, 9 Oktober 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar