Lembayung
Jingga, Mawar Merah dan Dia
Oleh : Anik
Suliatri
Awan
gelap telah menyelimuti segenap cakrawala bersama angin dingin membekukan
suasana. Sepi dan sunyi. Pepohonan mulai kuyup oleh gemercik bulir-bulir langit
yang mengalun berirama disetiap tetesnya. Aroma tanah basah menyeruak sampai
disudut ruang yang tercuri olehku.
Arloji
masih menunjukan pukul 07:00. Aku terbangun lebih awal pagi ini. Dengan tubuh
gontai ku langkahkah kaki menuju jendela ruang yang usai dihiasi. Kusisir
pandangan kearah yang berbeda diberbagai sudut. Sebagian orang berlarian menuju
tenda untuk berteduh, yang lain lagi sibuk menata jamuan dan beberapa pas bunga
dipelataran yang siap menyambut tamu terhormat. Semua orang sibuk. Ahh, gerimis
pagi ini membuatku ingin menjelajahi sejenak akan gerimis langit jingga disudut
sekolah.
*****
“Tak
peduli segelap apapun ia, semarah apapun ia, sesuram apapun ia, setelah
menumpahkannya pada perut bumi kemudian menghibur penikmatnya pada guratan indah
diwajahnya. Saat derapnya mulai redup, lembayung jingga mulai menampakkan diri,
indah bukan ?. Ada yang mengartikannya sebagai anugrah pun ada yang
menganggapnya sebagai musibah. Namun hujan tetaplah air suci yang tidak bisa
disalahkan oleh hardik insan yang tak mengharapkan hadirnya. Aku tak peduli
karena ia akan menghadirkan pada yang ku suka. Kusebut ia lebayung jingga” gumam
lelaki yang tak ku tau asalnya, berdiri tepat disebelahku ikut menikmati
gerimis senja.
“Belum
pulang ? terjebak hujan ?”. lanjutnya.
Kubalas
senyum setelah beberapa anggukan mengiyakannya.” Ahh,hujan. Aku sama sekali tak menyukainya” ocehku dalam hati.
Aku
masih tertegun mengingat seluruh siswa telah pulang dan hanya kami berdua
disana. Bersama orang yang tak kukenal membuat ku beberapakali memikirkan hal
buruk dengan tatap yang penuh curiga. Beberapa langkah aku menjauh darinya
dengan sedikit mengerutkan keningku, berharap hujan cepat berlalu.
“Aku tidak akan berani” ujarnya seolah tau apa
yang kufikirkan. Benar juga.
Aku
masih terdiam.
“Nama
ku Reno, sekelas denganmu sejak tiga hari yang lalu.” Jelasnya memperkenalkan
diri.
Aku terbingungkan, sejak kapan ada
anak baru dikelasku.
“Itu juga yang ku herankan, kenapa
hanya kamu yang tak menyadari kehadiran
orang ganteng yang penuh pesona ini ? hehe...” sedikit tertawa menyeringai.
Kali ini ia hanya mendapati tatapan
kosong dariku yang entah mata ini mengarah kemana. Masih terdiam.
“Wah, keren. Lihatlah, langit seolah
mengetahui isi hati ku saat ini. Memang sangat indah, ku akui” cerocosnya tak
henti melihat kearah langit meski tak mendapati jawab dariku.
“Dibawah hanya ada lantai dan jejak
kaki. Jangan menutup mata hanya karena gemuruh dan suara suramnya. Dunia akan terlihat
indah setelah kamu benar-benar menerimanya sebagai anugrah. Coba saja seperti
hujan ini, setelahnya akan ada pelangi yang siap membuatmu terkagum. Hanya
butuh sedikit perhatianmu” tambahnya berharap ia menemukan wajahku yang
tertutupi halai kain dikepalaku.
“Senang
berkenalan denganmu, lembayung jingga.”
Kali
ini ia benar-benar telah menutup percakapannya sendiri. Konyol , fikirku. Sesaat suaranya tenggelam bersama irama bulir
bening yang menakutkan bagiku. Lenyap entah kemana. Aku tak tau. Aku tak
peduli.
Derap
hujan mulai terhenti. Angin menyibak awan gelap diatas sana. Samar-samar si
biru datang mengalahkan kesuramannya. Beberapa detik bertambah beberapa warna
lagi berdamping dengan biru. Mata ku terberkedip dibuatnya. Benar saja. Dibawah
langit senja aku bertemu lembayung jingga yang menjadi bait puisi pertamaku.
Aku
mulai tersadar dan bertanya “siapa lembayung jingga tadi ?”. Sontak mata
mencari keseluruh sudut sekolah, kaki berlari menelusuri lorong-lorong berharap
ia muncul kembali. Semua telah berlalu, jejaknya tak kudapati lagi.
Dengan kecewa ku ajak kaki keluar gerbang
sekolah. Sesekali ku pandangi baris nama yang tersusun rapi yang menjadi
kebanggaan tersendiri bagi kebanyakan siswa bahkan tak jarang membuat
sebagiannya iri. “SMA NEGERI 1 BELITANG” sebuah nama yang dapat kamu lihat
tepat dipintu masuk sekolah. Merupakan sekolah unggulan dikabupaten kami. Aku
bersyukur menjadi salah satu diantara ribuan yang menimba ilmu disini. Tiap
kali masuk dan keluar sekolah ku pandangi nama itu berlama-lama. Hampir menjadi
ritual tersendiri bagiku mengingat betapa beruntungnya aku.
*****
“flowers”. Suara yang terdengar diluar
pagar rumah menyapa pagiku padahal arloji masih menunjukan pukul 05:30. Seperti
biasa setangkai bunga mawar dan koran langganan ayah terdapat disana. Entah
siapa yang meletakannya. Bukan, yang ku maksud hanya bunga mawar.
Betapa
konsistennya ia setiap pagi dan selama tiga tahun terakhir ini bunga mawar
selalu menyapa pagiku. Andai saja dia yang melakukannya. Rasanya tak mungkin
dia menjadi penganggum rahasiaku. Justru sebaliknya, akulah yang mengaguminya.
Diam-diam aku mulai memperhatikannya. Dia yang kutemui pertamakali saat
perkenalan siswa baru SMP NEGERI 3 BELITANG MULYA. Kamipun bersekolah di SMA
yang sama. Tapi sepertinya hanya aku yang menganggapnya lebih dari sekedar
sahabat. Dibanding denganku ia jauh lebih dekat dengan sahabat ku, Nana.
Mungkin ada benih cinta diantara mereka.
Aku
harus menahan cemburuku saat mendapati mereka ngobrol begitu asyiknya seolah
hadirku tak dirasakan. Mereka sering mengajakku pergi belajar bersama
diperpustakaan, makan bareng, nonton
film kesukaan kami, berorganisasi yang sama, berangkat dan pulang sekolah
bersama atau sekedar mendengar musik yang sama. Hampir semua kami lakukan
bersama, bertiga dan aku diantara mereka.
Rasa
sakit ini mengajarkanku arti persahabatan yang sebenarnya. Aku memilih diam
untuk kedua orang sahabat yang kucintai dan ku tak ingin kehilangan mereka.
Cukup menjadi sahabatnya untuk berada disamping lebih dekat dan melakukan
segala hal bersama.Yaa, karena waktu cepat berlalu saat aku bersamanya.
Terkadang
aku ingin waktu cepat berlalu agar aku bisa jauh dari rasa sakitnya hari
kemarin saat tak sengaja ku melihat ia memeluk Nana dan memegang tanganya erat
seoalah tak ingin terpisahkan. Hatiku bergetar hebat, langkahku tak terarah,
pandangan mulai kunang-kunang, seluruh tubuh mati rasa, masih kulihat dia pergi
menjauh dari bersama Nana. Gelap dan semua hilang.
*****
“Di, Diana, Di “ tak
yakin seperti suara lembayung jingga samar-samar terdengar terus memanggil
namaku. Perlahan mata benar-benar terbuka yang ku dapati ayah dan ibu yang
terus memanggil namaku. Mungkin itu hanya ilusi berharap ada orang yang
benar-benar mengerti perasaaanku.
Aku
ingin cepat bertemu hari esok untuk memulai harapan baru. Hingga hari-hari
berlalu dan rasa inipun semakin membuncah. Cinta, rindu, kecewa, bahagia,
sakit, menangis, semua. Pada akhirnya aku sadar tak ada waktu yang tepat untuk
memualai asa sebelum sembuhnya luka. Semua masih membekas. Aku memilih
mendiamkan kisah ini. Kisah yang menyakitkan dan cukup dikenang. Mencintaimu
dalam diamku.
*****
Kucari
titik terang saat angin minggila lewat suara sumbangnya. Betapa bergairahnya ia
mengabarkan luka. Berlalunya waktu tak pula menghapus luka. Hanya pergi sejenak
saja sejak saat itu.
Ku
raih selembar kertas diataas meja hias yang tak jauh dari ranjangku. Tertulis
nama “Reno dan Nana” dua sahabat ku
hari ini akan mengucap janji sehidup semati. Hari ini hari pernikahannya. Tenda
dipelataran rumah yang kulihat adalah tenda pernikahan mereka didepan rumah
Nana yang hanya bersebelahan dengan rumahku.
Tak
peduli gerimis pagi ini, mawar-mawar merah tetap mekar menghiasasi tenda
mereka. Mawar merahku pun hilang. Tak pernah lagi ada mawar merah dipagar.
Lembayung jingga yang tak ku tau siapa dia dan dimana dia. Hanya hari itu saja
aku bertemu dengannya yang menjadi penyesalanku adalah aku yang tak melihat
wajahnya. Ahh, sudahlah.
“Diana,
kok belum siap-siap ?” suara Nana tiba-tiba memecahkan lamunanku.
“Iya,
ini mau ganti baju” jawab ku terbata.
“Itu
baju pengantinnya kok belum di pakek ?” tanya ku keheranan.
“hehe...
iya. Aku takut bajunya gk cocok
dibadan ku Di” keluhnya dengan wajah murung.
“Mau
ya Di kamu coba baju pegantinnya dulu, biar ku lihat bagian mana yang harus ku
perbaiki” dalihnya memaksa ku.
Yang
benar saja aku harus mengenakan baju pengantin Nana. Ya Allah, beri aku
kekuatan. Ku tahan kuat-kuat saat genangan air hampir menutupi mata ku.
Sesekali ku usap tanpa sepengetahuan Nana. Haruskah aku mengabulkan permintaan
sahabatku meski menambah perih hati ini.
“Tidak,
tapi kamu harus memakainya karena kamu pengantin wanitanya. Hari ini adalah
hari pernikahanmu dan Reno” sontak membuatku terkejut mendengar kalimat itu
dari Nana.
“Reno
selama ini diam-diam memerhatikanmu. Dia yang menemani mu saat semua anak sudah
pulang sekolah di sore itu, langit senja. Dialah lembayung jingga. Dia mengajak
ku ke perpustakaan hanya untuk mendengar cerita masa kecil mu dariku. Setiap
pagi dia bangun jam 05:00 untuk datang kerumahmu membawa setangkai bunga mawar
yang ia tanam dan rawat sendiri ditaman rumahnya. Tepat jam 05:30 ia meletakkan
mawar-mawar itu setelah tukang koran mengantarkan koran kepada langganannya.
Aku hanya menjadi alasan Reno untuk dekat denganmu. Pergi belajar bersama
diperpustakaan, makan bareng, nonton
film kesukaan mu, dan dihari kamu pingsan. Dia bukan memelukku tapi memapahku
berjalan karena aku baru jatuh dari tangga. Setelah melihat kamu terjatuh
pingsan, dia berlari kearahmu dan membopongmu ke UKS sampai kedua orangtuamu
datang kemudian dia lekas pergi. Semua yang kita lakukan bersama adalah usahanya
untuk mendekatimu hingga sebulan yang lalu ia datang kepada kedua orangtua mu
untuk meminangmu dan merencanakan kejutan pernikahan ini untukmu. Tentu saja
kamu tidak tau karena kami sengaja merahasiakannya darimu. Hari ini mawar-mawar itu bermekaran dan
pelangi hadir ditengah-tengah kalian untuk ikut merayakan hari jadi kalian. Aku
tak menaruh rasa apapun pada Reno. Kamu dan Reno adalah sahabatku.” Jelas Nana
membuatku semakin terkejut.
Tak
percaya atas apa yang terjadi. Air mata ku mengalir deras tak tertahankan lagi.
Aku menangis sejadi-jadinya. Kebahagiaan bisa datang dari mana saja bahkan pada
jalan yang tak terduga. Berhentilah berandai-andai dan menyesali hal yang tak
kamu inginkan. Karena tak peduli dari mana asalnya, cinta itu ada
disekelilingmu. Mawar merah, lembayung jingga, dan sahabat yang ku sayangi
adalah dia, suamiku.
#Indralaya,
9 Oktober 2010