Sabtu, 31 Oktober 2015

Puisi Angin Berbalik Arah



Angin Berbalik Arah
oleh :

Anik Suliatri


Di  awal kelahiranya
Sambutan nyanyian syair
Melantun suci dengan lembutnya
Menyentuh dinding-dinding hati

Dalam kesunyian malam
Hiasan bintang bersama purnama
Merebahlah hati bergejolak
Memuncak lewat pandangan mata

Tanpa sengaja
Tercurihlah mata bersinar lembut
Membuat hati bergemetar
Terhentinya saraf-saraf beredar

Lantunan indah merajai otak
Teruslah hati bergejolak
Tiap kali insan ilahi telah nampak
Tubuh mengigil sedemikan rupa

Seolah nyawa ia lah yang punya
Diri ini menjadi acuh
Menutup pintu dan jendela
Menolak tiupan angin luar

Namun kini angin brbalik arah
Rembulan tak lagi bersahabat
Purnama telah memilikinya
Tak lagi tersisa

Membuat nestapa jiwa ini
Mata ini peluh
Langitpun ikut menangis
Terharu biru lebih tragis

Dalam puncak munajat
Hati meratap dan mengiba
Cinta yang terbawa
Bersama ruh yang tak lagi menyatu

  

                                             #20-11-2013






cerpen lembayung jingga



Lembayung Jingga, Mawar Merah dan Dia
Oleh : Anik Suliatri
Awan gelap telah menyelimuti segenap cakrawala bersama angin dingin membekukan suasana. Sepi dan sunyi. Pepohonan mulai kuyup oleh gemercik bulir-bulir langit yang mengalun berirama disetiap tetesnya. Aroma tanah basah menyeruak sampai disudut ruang yang tercuri olehku.
Arloji masih menunjukan pukul 07:00. Aku terbangun lebih awal pagi ini. Dengan tubuh gontai ku langkahkah kaki menuju jendela ruang yang usai dihiasi. Kusisir pandangan kearah yang berbeda diberbagai sudut. Sebagian orang berlarian menuju tenda untuk berteduh, yang lain lagi sibuk menata jamuan dan beberapa pas bunga dipelataran yang siap menyambut tamu terhormat. Semua orang sibuk. Ahh, gerimis pagi ini membuatku ingin menjelajahi sejenak akan gerimis langit jingga disudut sekolah.
                                                                        *****                                     
“Tak peduli segelap apapun ia, semarah apapun ia, sesuram apapun ia, setelah menumpahkannya pada perut bumi kemudian menghibur penikmatnya pada guratan indah diwajahnya. Saat derapnya mulai redup, lembayung jingga mulai menampakkan diri, indah bukan ?. Ada yang mengartikannya sebagai anugrah pun ada yang menganggapnya sebagai musibah. Namun hujan tetaplah air suci yang tidak bisa disalahkan oleh hardik insan yang tak mengharapkan hadirnya. Aku tak peduli karena ia akan menghadirkan pada yang ku suka. Kusebut ia lebayung jingga” gumam lelaki yang tak ku tau asalnya, berdiri tepat disebelahku ikut menikmati gerimis senja.
“Belum pulang ? terjebak hujan ?”. lanjutnya.
Kubalas senyum setelah beberapa anggukan mengiyakannya.” Ahh,hujan. Aku sama sekali tak menyukainya” ocehku dalam hati.
Aku masih tertegun mengingat seluruh siswa telah pulang dan hanya kami berdua disana. Bersama orang yang tak kukenal membuat ku beberapakali memikirkan hal buruk dengan tatap yang penuh curiga. Beberapa langkah aku menjauh darinya dengan sedikit mengerutkan keningku, berharap hujan cepat berlalu.
 “Aku tidak akan berani” ujarnya seolah tau apa yang kufikirkan. Benar juga.
Aku masih terdiam.
“Nama ku Reno, sekelas denganmu sejak tiga hari yang lalu.” Jelasnya memperkenalkan diri.
            Aku terbingungkan, sejak kapan ada anak baru dikelasku.
            “Itu juga yang ku herankan, kenapa hanya kamu yang tak  menyadari kehadiran orang ganteng yang penuh pesona ini ? hehe...” sedikit tertawa menyeringai.
            Kali ini ia hanya mendapati tatapan kosong dariku yang entah mata ini mengarah kemana. Masih terdiam.
            “Wah, keren. Lihatlah, langit seolah mengetahui isi hati ku saat ini. Memang sangat indah, ku akui” cerocosnya tak henti melihat kearah langit meski tak mendapati jawab dariku.
            “Dibawah hanya ada lantai dan jejak kaki. Jangan menutup mata hanya karena gemuruh dan suara suramnya. Dunia akan terlihat indah setelah kamu benar-benar menerimanya sebagai anugrah. Coba saja seperti hujan ini, setelahnya akan ada pelangi yang siap membuatmu terkagum. Hanya butuh sedikit perhatianmu” tambahnya berharap ia menemukan wajahku yang tertutupi halai kain dikepalaku.        
“Senang berkenalan denganmu, lembayung jingga.”
Kali ini ia benar-benar telah menutup percakapannya sendiri. Konyol , fikirku. Sesaat suaranya tenggelam bersama irama bulir bening yang menakutkan bagiku. Lenyap entah kemana. Aku tak tau. Aku tak peduli.
Derap hujan mulai terhenti. Angin menyibak awan gelap diatas sana. Samar-samar si biru datang mengalahkan kesuramannya. Beberapa detik bertambah beberapa warna lagi berdamping dengan biru. Mata ku terberkedip dibuatnya. Benar saja. Dibawah langit senja aku bertemu lembayung jingga yang menjadi bait puisi pertamaku.
Aku mulai tersadar dan bertanya “siapa lembayung jingga tadi ?”. Sontak mata mencari keseluruh sudut sekolah, kaki berlari menelusuri lorong-lorong berharap ia muncul kembali. Semua telah berlalu, jejaknya tak kudapati lagi.
 Dengan kecewa ku ajak kaki keluar gerbang sekolah. Sesekali ku pandangi baris nama yang tersusun rapi yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi kebanyakan siswa bahkan tak jarang membuat sebagiannya iri. “SMA NEGERI 1 BELITANG” sebuah nama yang dapat kamu lihat tepat dipintu masuk sekolah. Merupakan sekolah unggulan dikabupaten kami. Aku bersyukur menjadi salah satu diantara ribuan yang menimba ilmu disini. Tiap kali masuk dan keluar sekolah ku pandangi nama itu berlama-lama. Hampir menjadi ritual tersendiri bagiku mengingat betapa beruntungnya aku.
                                                                        *****                                     
            “flowers”. Suara yang terdengar diluar pagar rumah menyapa pagiku padahal arloji masih menunjukan pukul 05:30. Seperti biasa setangkai bunga mawar dan koran langganan ayah terdapat disana. Entah siapa yang meletakannya. Bukan, yang ku maksud hanya bunga mawar.
Betapa konsistennya ia setiap pagi dan selama tiga tahun terakhir ini bunga mawar selalu menyapa pagiku. Andai saja dia yang melakukannya. Rasanya tak mungkin dia menjadi penganggum rahasiaku. Justru sebaliknya, akulah yang mengaguminya. Diam-diam aku mulai memperhatikannya. Dia yang kutemui pertamakali saat perkenalan siswa baru SMP NEGERI 3 BELITANG MULYA. Kamipun bersekolah di SMA yang sama. Tapi sepertinya hanya aku yang menganggapnya lebih dari sekedar sahabat. Dibanding denganku ia jauh lebih dekat dengan sahabat ku, Nana. Mungkin ada benih cinta diantara mereka.
Aku harus menahan cemburuku saat mendapati mereka ngobrol begitu asyiknya seolah hadirku tak dirasakan. Mereka sering mengajakku pergi belajar bersama diperpustakaan, makan bareng, nonton film kesukaan kami, berorganisasi yang sama, berangkat dan pulang sekolah bersama atau sekedar mendengar musik yang sama. Hampir semua kami lakukan bersama, bertiga dan aku diantara mereka.
Rasa sakit ini mengajarkanku arti persahabatan yang sebenarnya. Aku memilih diam untuk kedua orang sahabat yang kucintai dan ku tak ingin kehilangan mereka. Cukup menjadi sahabatnya untuk berada disamping lebih dekat dan melakukan segala hal bersama.Yaa, karena waktu cepat berlalu saat aku bersamanya. 
Terkadang aku ingin waktu cepat berlalu agar aku bisa jauh dari rasa sakitnya hari kemarin saat tak sengaja ku melihat ia memeluk Nana dan memegang tanganya erat seoalah tak ingin terpisahkan. Hatiku bergetar hebat, langkahku tak terarah, pandangan mulai kunang-kunang, seluruh tubuh mati rasa, masih kulihat dia pergi menjauh dari bersama Nana. Gelap dan semua hilang.
                                                                        *****                                                 
“Di, Diana, Di “ tak yakin seperti suara lembayung jingga samar-samar terdengar terus memanggil namaku. Perlahan mata benar-benar terbuka yang ku dapati ayah dan ibu yang terus memanggil namaku. Mungkin itu hanya ilusi berharap ada orang yang benar-benar mengerti perasaaanku.
Aku ingin cepat bertemu hari esok untuk memulai harapan baru. Hingga hari-hari berlalu dan rasa inipun semakin membuncah. Cinta, rindu, kecewa, bahagia, sakit, menangis, semua. Pada akhirnya aku sadar tak ada waktu yang tepat untuk memualai asa sebelum sembuhnya luka. Semua masih membekas. Aku memilih mendiamkan kisah ini. Kisah yang menyakitkan dan cukup dikenang. Mencintaimu dalam diamku.
                                                                        *****                                     
Kucari titik terang saat angin minggila lewat suara sumbangnya. Betapa bergairahnya ia mengabarkan luka. Berlalunya waktu tak pula menghapus luka. Hanya pergi sejenak saja sejak saat itu.
Ku raih selembar kertas diataas meja hias yang tak jauh dari ranjangku. Tertulis nama “Reno dan Nana” dua sahabat ku hari ini akan mengucap janji sehidup semati. Hari ini hari pernikahannya. Tenda dipelataran rumah yang kulihat adalah tenda pernikahan mereka didepan rumah Nana yang hanya bersebelahan dengan rumahku.
Tak peduli gerimis pagi ini, mawar-mawar merah tetap mekar menghiasasi tenda mereka. Mawar merahku pun hilang. Tak pernah lagi ada mawar merah dipagar. Lembayung jingga yang tak ku tau siapa dia dan dimana dia. Hanya hari itu saja aku bertemu dengannya yang menjadi penyesalanku adalah aku yang tak melihat wajahnya. Ahh, sudahlah.
“Diana, kok belum siap-siap ?” suara Nana tiba-tiba memecahkan lamunanku.
“Iya, ini mau ganti baju” jawab ku terbata.
“Itu baju pengantinnya kok belum di pakek ?” tanya ku keheranan.
“hehe... iya. Aku takut bajunya gk cocok dibadan ku Di” keluhnya dengan wajah murung.
“Mau ya Di kamu coba baju pegantinnya dulu, biar ku lihat bagian mana yang harus ku perbaiki” dalihnya memaksa ku.
Yang benar saja aku harus mengenakan baju pengantin Nana. Ya Allah, beri aku kekuatan. Ku tahan kuat-kuat saat genangan air hampir menutupi mata ku. Sesekali ku usap tanpa sepengetahuan Nana. Haruskah aku mengabulkan permintaan sahabatku meski menambah perih hati ini.       
“Tidak, tapi kamu harus memakainya karena kamu pengantin wanitanya. Hari ini adalah hari pernikahanmu dan Reno” sontak membuatku terkejut mendengar kalimat itu dari Nana.
“Reno selama ini diam-diam memerhatikanmu. Dia yang menemani mu saat semua anak sudah pulang sekolah di sore itu, langit senja. Dialah lembayung jingga. Dia mengajak ku ke perpustakaan hanya untuk mendengar cerita masa kecil mu dariku. Setiap pagi dia bangun jam 05:00 untuk datang kerumahmu membawa setangkai bunga mawar yang ia tanam dan rawat sendiri ditaman rumahnya. Tepat jam 05:30 ia meletakkan mawar-mawar itu setelah tukang koran mengantarkan koran kepada langganannya. Aku hanya menjadi alasan Reno untuk dekat denganmu. Pergi belajar bersama diperpustakaan, makan bareng, nonton film kesukaan mu, dan dihari kamu pingsan. Dia bukan memelukku tapi memapahku berjalan karena aku baru jatuh dari tangga. Setelah melihat kamu terjatuh pingsan, dia berlari kearahmu dan membopongmu ke UKS sampai kedua orangtuamu datang kemudian dia lekas pergi. Semua yang kita lakukan bersama adalah usahanya untuk mendekatimu hingga sebulan yang lalu ia datang kepada kedua orangtua mu untuk meminangmu dan merencanakan kejutan pernikahan ini untukmu. Tentu saja kamu tidak tau karena kami sengaja merahasiakannya darimu.  Hari ini mawar-mawar itu bermekaran dan pelangi hadir ditengah-tengah kalian untuk ikut merayakan hari jadi kalian. Aku tak menaruh rasa apapun pada Reno. Kamu dan Reno adalah sahabatku.” Jelas Nana membuatku semakin terkejut.
Tak percaya atas apa yang terjadi. Air mata ku mengalir deras tak tertahankan lagi. Aku menangis sejadi-jadinya. Kebahagiaan bisa datang dari mana saja bahkan pada jalan yang tak terduga. Berhentilah berandai-andai dan menyesali hal yang tak kamu inginkan. Karena tak peduli dari mana asalnya, cinta itu ada disekelilingmu. Mawar merah, lembayung jingga, dan sahabat yang ku sayangi adalah dia, suamiku. 
#Indralaya, 9 Oktober 2010

Jumat, 30 Oktober 2015

Cerpen Nasehat Renta



Nasihat Renta
Oleh : Anik Suliatri
Mentari perlahan redup kembali keperaduannya. Semilir angin berbisik parau membawa hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Hewan-hewan ternak pulang ke kandangnya. Wajah-wajah lusuh, bukti perjuangan nampak sekilas dari mereka yang sedang menunaikan rukun islam yang keempat. Umat muslim tengah berjuang melawan segala hawa nafsu dan senja menunjukan perjuangan akan berakhir setelah azan di kumandangkan.
Di serambi rumah, sejenak kuteliti satu persatu geliat tingkah mereka yang disibukan persiapan berbuka puasa. Bulan yang istimewa, dimana amal perbuatan dilipat gandakan pahalanya.
Bulan Ramadhan adalah bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan dia tidak berpuasa , maka wajib menggantinya sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya jika ia mengetahui. Allah menghendaki kemudahan dan tidak  menghendaki kesungkaran bagi hambaNya.
 Subhanaullah, begitu indah Islam mengajarkan kebajikan bagi umatnya. Gumamku dalam hati.    
“ Aulia.” panggil ibu memecahkan lamunanku.
“Iya,bu.” Sahutku cepat, lalu berlari menuju ruang makan yang tak jauh dari serambi.
“Antarkan kue dan es ini ke rumah mbah Inten .“ perintah ibu lirih.
“Baik, bu.” Jawabku singkat, lekas berangkat.
Mbah Inten. Ya, itu sapa penduduk kampung kepada beliau. Sosok tua itu hidup hanya sebatang kara, tidak ada sanak saudara. Dalam hidupnya, ia tak pernah menikah. Melewati hari demi hari seorang diri. Entah tak pernah kubayangkan, betapa kesepiannya. Seikat daun ubi cukup menopang hidup. Pasar menjadi tempat tujuan menjajaki dagangan yang tak seberapa itu.
Tak perlu lama sampai di rumah mbah Inten. Terlihat rumah tua yang semakin rapuh dimakan oleh usia. Dinding yang terbuat dari anyaman bambu di tengah peradaban zaman, terseliplah rumah tua yang sempit, hampir tak terlihat. Halaman rumah penuh dedaunan jambu bergelimpangan liar kesana kemari. Rumput ilalang sebagai atap. Beberapa tumpukan batu dan kayu di depan pintu menghalangi langkahku. Tak pelak menghalangi naitku.
“Assalamualaikum.” Sapaku lirih, mengetuk pintu beberapa kali.
“Wa’alaikumsalam.” sahut suara dari dalam menjawab.
“Ada apa, ndok ?” tambah mbah Inten, membukakan pintu.
“Ini mbah, ada sedikit  rizki dari bapak dan ibu di rumah. Silahkan diterima.” Ucapku, memberikan beberapa potong kue dan segelas es campur.
“Masyaallah,ndok. Tak perlu repot-repot. Mbah tiap hari diberi makanan dan minuman, tiap kali orangtuamu sehabis gajian, pasti mereka membelikan mbah pakaian, bahkan tidak jarang mereka memberi mbah uang. Mbah tidak punya apa-apa untuk membalasnya.” Lontar beliau dengan kalimat menolak sembari merundukkan kepala.
“Tidak apa-apa mbah. Silahkan diterima saja, ini rizki dari Allah, tidak baik menolaknya .“ tangkas ku cepat agar beliau tidak menolak lagi.
“Iya, mbah terima. Terimakasih ndok. Sampaikan pada orangtua mu, selamat berbuka puasa .“ Tangan keriput itu mulai mengambil sepiring kue dan segelas es dari tangan ku.
“Iya mbah, nanti saya sampaikan. Assalamuaikum.”Sahutku, lekas keluar rumah.
“Wa’alaikumsalam.” Tersenyum seolah banyak makna yang tidak aku tahu.
Sesekali aku melihat ke belakang. Rumah persegi tanpa jendela. Entah berapa lama ia mampu bertahan. Sebarapa kuat menahan terpaan angin. Kekokohan kayu penopang atap semakin rentang. Bukan tidak ada kebijakan dari pemerintah, sudah terlalu sering warga menghimbau, bahkan ada yang menawarkan untuk tinggal dirumahnya. Namun, beliau tetap tidak meninggalkan rumahnya itu.
Menghela nafas, tersenyum, mengagumi sosok ini. Apa yang membuatnya sangat mencintai rumah itu hingga tidak pernah meninggalkannya walau semalam. Gumamku dalam hati.
           

Langit cerah dan bintang gemintang mencumbu bulan menghiasi atap bumi. Ramai malam dengan pujian-pujian mengagungkan nama Allah. Didengungkan lafas al-qur’an menyentuh hati setiap insan yang mendengar. Sedari tadi, jiwa terpanggil menuju perpaduan rumah sang Ilahi. Orang-orang dengan langkah seribu, bergerombol sembari tawa ceria memecah di sepanjang jalan setapak. Yang muda dan tua pun bersatu dalam bahasan bahasa sehingga tidak ada beda di antaranya.
Pintu pagar rumah berderit seperti biasa ketika Rahma menguak pelan-pelan.
“Aulia.” Panggil sahabatku.
Tanpa berfikir panjang, kami bergegas bergabung dengan remaja lain menuju masjid. Azan telah di kumandangkan. Shaf  wanita telah rapi semua telah berbalut mukena dan sajadah telah di gelar. Takbir, rukuk, sujud, usailah beberapa reka’at. Setiap jiwa khusu’ di dalamnya. Rob benar-benar hidup dalam hati hambaNya.
Berlanjut, tadarus malam. Para remaja masjid dan beberapa senior berkumpul untuk memusyawarahkan acara bakti sosial remaja masjid. Kali ini, kang Avid yang memimpin. Satu persatu anggota telah mengemukakan persepsinya. Disepakati bakti sosial dilakukan minggu ini setelah dana sumbangan sudah terkumpul. Dana ini akan dibelikan kebutuhan sembako yang akan diberikan kepada masyarakat yang kurang mampu. Pembagian tugas, setiap dua orang memberikan sedekah pada satu rumah. Aku dan Rahma mendapat tugas untuk memberikan sembako ke rumah mbah Inten.
Hmmm,teringat pertanyan yang belum terjawab dengan puas. Hal ini semakin membuat keinginan ku mengetahui alasan mbah Inten yang tidak pernah mau meninggalkan rumahnya.


Keesokan hari sepulang sekolah, aku dan teman-teman yang lain bersiap-siap untuk membagikan sembako. Setibanya di rumah mbah Inten, kami di sambut ramah oleh beliau. Sosok tua itu mempersilahkan masuk dan duduk.
Lantai beralaskan tanah dengan permadani tikar lusuh menjadi pemandangan ruangan itu. Kembali kusisir pandangan, terlihat di setiap sudut rumah yang terisi buntelan plastik tanpa isi. Ruangnya pun tanpa meja dan kursi, hanya terdapat ranjang reot bermahkota bantal yang kumal di sebelah kanan sudut. Serta satu lemari kecil dan lapuk di sampingnya. Sebelah kiri, damar tua yang tak ku tahu pasti usianya tergantung didinding. Gambar ka’bah dan beberapa kaligrafi yang tak kalah muram bertengger diatasnya. Sempat tercuri oleh mataku, atap rumah yang bocor tepat di atas ranjang tidur.
Tanpa komando benakku bertanya, bagaimana seseorang bisa tidur saat hujan turun? pastilah air menetes mengganggu istirahatnya. Belum lagi, saat angin kencang menerpa dinding-dinding rumah. Dapat dipastikan, rasa khawatir menghantui. Mengingat beberapa gelondongan kayu penyanggah atap mulai lelah. Melihat dalam diam, tampak merenung, sesekali menyimpan iba, tapi berikutnya kosong dan berkelebat kilat mesterius yang tak dimengerti.
Sudahlah, agak mengabaikan rasa simpati dan mengambil alih dari sudut pandang empati.
Senyum itu kembali menghiasi wajah seolah penuh makna yang tidak aku ketahui.   
“Kalau aku mau, aku dapat menikmati makanan terbaik dan pakaian terindah. Tetapi aku sisakan kesenanganku untuk hari akhir.” Dengan wajah bebinar tanpa lelah, cukup untuk menjawab pertanyaan ku.
 “Mengapa menangis,ndok ?” Lanjut beliau.
 “Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh mu. Engkau orang baik. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Padahal ditempat sana, Kisra dan Kaisar duduk di atas kistal emas, berbantal sutra.” Banyak tanya muncul seolah tidak percaya.
 “Mereka telah menyegarakan kesenangannya sekarang juga, kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir kita. Perumpamaanku dengan dunia seperti seseorang yang berpergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak dibawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya.” Jelas beliau.
“Jadilah engkau di dunia laksana orang asing atau orang yang menyebrangi jalan. Bila engkau berada di sore hari, maka jangan menunggu datangnya pagi dan bila engkau di pagi hari, maka jangan menunggu datangnya sore. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum sakitmu dan waktu hidupmu sebelum matimu[1]. Itulah yang dicontohkan Rasulullah kepada kita. ” Tambahnya.
  Menghela nafas dan saling pandang. Rahma memegang pundakku, mencoba menghibur.
Secara tersirat terjawab sudah pertanyaan ku dengan sangat memuasakan. Hidup sederhana bukan berarti hidup susah dan senang menderita, melainkan mengerti mana keinginan dan mana kebutuhan..Orang bersahaja menyadari bahwa hasrat tidak akan pernah puas karena diperturutkan. Gaya hidup ini tidak berarti menjahui kesenangan dunia, tapi menyadari bahwa setiap kesenangan pasti akan dipertanggung jawabkan.
                                                                                                                                                                                                           




[1]  (h.r. Bukhari).