Selasa, 23 Agustus 2016

puisi pelecut hati



Pelecut Hati
Oleh : Anik Suliatri

Mata terpejam dalam. Tajam  
Menlansirkan sua diberanda ilusi
Kalap jua kota bayang membelakangi
Telusuri jejak memori
Mimpi  

Mendekap resah meluruh peluh
Akan jemari hangat tempo itu
Menjadi tempat rebahnya lara
Mengusir riuh letih sehabis senja
Benarkah ada ?   

Kepada awan yang menari
Mengatup luka saban hari
Lecuti sunyi dikediaman malam
Telah jelas itu bahagia, tapi tak jelas jika itu luka
Terlupa

Ditengah telaga ada jelaga
Peringatan bagi si pencinta
Sehilang haus habis disesapi
Terbuang bersama sepi matikan hati
Air mata

Lampung, 14-12-2015

Selasa, 16 Februari 2016

Puisi Anik Suliatri



Puisi
Oleh : Anik Suliatri

Kutingggalkan sekisah puisi
Sepotong luap pada bait lelah
Menampung luka, segala arah
Setelaah sempat beradu sembilu dan bisu
Biarkan mereka terusir hingga tak mampu ku rindu

Kebersamaan lebih dulu pergi
Takkan jadi kenang yang layak tuk diulang
Senyum yang tertahan
Ialah hati yang terlampau perih
Terlebih tak terbaca senyatanya rasa

Semua akan baik-baik saja
Selama itu adalah puisi
Karena ia seperti surat rahasia
antara duka dan tawa





Indralaya, 8 Februari 2016

puisi Mungkin kita tak lagi sama



Mungkin kita tak lagi sama
oleh : Anik Suliatri

Sekedar menulis akan redam sajikan toreh, berharap sembilu itu bukan kamu
Tidak seharusnya menghidupkan sangka selebih kasih
Entah tulus atau sekedar bias semu
Terjelas berhasil meluapkan kelasah dari tungku gusar

Ejaanku tak pernah benar tentangmu
Rasaku juga tak pernah terbaca olehmu
Sepi menjadi penghibur lara sekian kali
Itu lelucon bagimu : pilu

Izinkan aku temu rindu yang menginginkan ku
Seperti kamu yang telah bahagia tanpaku
Lebih baik sendiri dari pada bersama tapi terluka

Puisi kecewa



Ketika Pekat Semakin Melekat
Oleh : Anik Suliatri

Sorai rinai bulir langit
Disela lenggangnya waktu
Menanti pelangi yang tak segera menyapa
Tertimbun awan gelap

Kucari titik terang
Saat angin menggila lewat suara sumbangnya
Betapa gairahnya ia mengabarkan luka
Dulu yang sempat ada

Turuti libas ingatan itu
Seperti hari lalu telah kembali
Selalu hadir saat diri tengah lengah
Ahh... bodohnya aku
Mengapa harus mengingatnya ?!

Berlalunya waktu tak pula menghapus kenangan
Hanya pergi jauh sejak saat itu
Percuma saja karena ia telah tersimpan sebagai luka
Lesat sekejap menambah gelap

Sekilas memori cukup mengajarkan benci
Yang hadir mungkin karena masih ada rasa yang tertinggal
Menutupi segala alibi
Mohon jangan ingatkan aku
Sungguh aku tak ingin mengingatnya
Hal itu hanya akan menambah luka



Indralaya, 19 April 2015