Minggu, 10 September 2017

intuisi



Intuisi

Aku tidak ingin berdebat dengan mu tentang benar dan salah. Aku sudah lelah meladeni sejuta tanya yang semakin liar diotakku.
Tentang batu-batu krikil yang sengaja melemparkan diri atau mungkin memang benar-benar tidak disengaja. Terjelas telah berhasil membuatku berjinjit meringis kesakitan. Dengan sengaja aku tidak menangis atau sekedar mengeluh. Itu bukan berarti aku kuat dan ingin terlihat hebat. Tidak sama sekali.
Aku berfikir bahwa setiap insan yang sedang ditinpa masalah tentu memiliki cara tersendiri untuk menghadapi, menanggapi dan menyelesaikannya.
Seperti halnya air mata yang tidak hanya untuk menggambarkan rasa sedih, sakit tapi juga haru, bahagia, simpati atau empati atau hal lainnya. Begitu pula denganku saat merasakan beberapa kerikil telah menyentuh bagian kulit terluarku. Aku berjingkrak-jingkrak mencari celah jalan lai yang dapat ku lalui tanpa merasa kesakitan. Berjingkrak-jingkrak bukan berarti aku bahagia atau hanya ingin terlihat bahwa aku baik-baik saja. Tidak sama sekali.
Berjingkrak-jingkrak yang aku maksud adalah berjalan kesana kemari, berjinjit membuat tubuhku sedikit lebih tinggi dengan mengangkat tumit kecilku dan bagian telapak kaki lain sebagai tumpuan. Tujuannya adalah agar tidak semua bagian telapak kakiku ikut merasakan sakit dan dengan begitu berharap dapat meminimalisir kemungkinan mengenai batu krikil, meskipun tidak tidak selamanya dapat aku hindari.
Bukan seperti versi pandanganmu tentangku. Tidak sama sekali. Sekali lagi, aku bukan ingin terlihat kuat dan hebat. Jujur saja aku masih jauh dari kedua kata itu.
Aku tidak memaksamu untuk bisa memahami dan percaya akan penjelasanku yang hanya terdengar seperti alasan bagimu, karena memang bukan itu tujuan ku. Aku juga tidak peduli lagi dengan pendapatmu mengenai masalah ini. Sebab aku percaya, aku memiliki Allah yang maha kaya yang jauh lebih besar dari masalah itu sendiri.
Ini hanya intuisiku saja
           
                                                                                    Indralaya, 10 September 2017

Minggu, 22 Januari 2017

Puisi masih disini menunggumu



Masih Disini

Oleh : Anik Suliatri

Bak lentera dalam gua gulita
Terpanccar lembut terasa khidmat
Dari sebrang aku berhijrah
Mencari suaka ku temu dirimu

Deru debu bak salju
Menyejuk dan terus mendalam
Gayungpun bersambut
Lembaran mulai berdalih

Adakalnya tersudut
Menepis sendiri menggelayuti asa
Dalam diam semakin mendalam
Ada rasa yang selalu terjaga

Tentang merpati putih yang tak pernah berpaling
Dan hinggap disarang orang
Mungkin rasa tak terbaca oleh mu
Atau hanya aku yang merasa ?
Dan disini aku masih menunggu

Indralaya, 28 Februari 2015

Selasa, 23 Agustus 2016

puisi pelecut hati



Pelecut Hati
Oleh : Anik Suliatri

Mata terpejam dalam. Tajam  
Menlansirkan sua diberanda ilusi
Kalap jua kota bayang membelakangi
Telusuri jejak memori
Mimpi  

Mendekap resah meluruh peluh
Akan jemari hangat tempo itu
Menjadi tempat rebahnya lara
Mengusir riuh letih sehabis senja
Benarkah ada ?   

Kepada awan yang menari
Mengatup luka saban hari
Lecuti sunyi dikediaman malam
Telah jelas itu bahagia, tapi tak jelas jika itu luka
Terlupa

Ditengah telaga ada jelaga
Peringatan bagi si pencinta
Sehilang haus habis disesapi
Terbuang bersama sepi matikan hati
Air mata

Lampung, 14-12-2015

Selasa, 16 Februari 2016

Puisi Anik Suliatri



Puisi
Oleh : Anik Suliatri

Kutingggalkan sekisah puisi
Sepotong luap pada bait lelah
Menampung luka, segala arah
Setelaah sempat beradu sembilu dan bisu
Biarkan mereka terusir hingga tak mampu ku rindu

Kebersamaan lebih dulu pergi
Takkan jadi kenang yang layak tuk diulang
Senyum yang tertahan
Ialah hati yang terlampau perih
Terlebih tak terbaca senyatanya rasa

Semua akan baik-baik saja
Selama itu adalah puisi
Karena ia seperti surat rahasia
antara duka dan tawa





Indralaya, 8 Februari 2016

puisi Mungkin kita tak lagi sama



Mungkin kita tak lagi sama
oleh : Anik Suliatri

Sekedar menulis akan redam sajikan toreh, berharap sembilu itu bukan kamu
Tidak seharusnya menghidupkan sangka selebih kasih
Entah tulus atau sekedar bias semu
Terjelas berhasil meluapkan kelasah dari tungku gusar

Ejaanku tak pernah benar tentangmu
Rasaku juga tak pernah terbaca olehmu
Sepi menjadi penghibur lara sekian kali
Itu lelucon bagimu : pilu

Izinkan aku temu rindu yang menginginkan ku
Seperti kamu yang telah bahagia tanpaku
Lebih baik sendiri dari pada bersama tapi terluka