Intuisi
Aku
tidak ingin berdebat dengan mu tentang benar dan salah. Aku sudah lelah
meladeni sejuta tanya yang semakin liar diotakku.
Tentang
batu-batu krikil yang sengaja melemparkan diri atau mungkin memang benar-benar
tidak disengaja. Terjelas telah berhasil membuatku berjinjit meringis
kesakitan. Dengan sengaja aku tidak menangis atau sekedar mengeluh. Itu bukan
berarti aku kuat dan ingin terlihat hebat. Tidak sama sekali.
Aku
berfikir bahwa setiap insan yang sedang ditinpa masalah tentu memiliki cara
tersendiri untuk menghadapi, menanggapi dan menyelesaikannya.
Seperti
halnya air mata yang tidak hanya untuk menggambarkan rasa sedih, sakit tapi
juga haru, bahagia, simpati atau empati atau hal lainnya. Begitu pula denganku
saat merasakan beberapa kerikil telah menyentuh bagian kulit terluarku. Aku
berjingkrak-jingkrak mencari celah jalan lai yang dapat ku lalui tanpa merasa
kesakitan. Berjingkrak-jingkrak bukan berarti aku bahagia atau hanya ingin
terlihat bahwa aku baik-baik saja. Tidak sama sekali.
Berjingkrak-jingkrak
yang aku maksud adalah berjalan kesana kemari, berjinjit membuat tubuhku
sedikit lebih tinggi dengan mengangkat tumit kecilku dan bagian telapak kaki
lain sebagai tumpuan. Tujuannya adalah agar tidak semua bagian telapak kakiku
ikut merasakan sakit dan dengan begitu berharap dapat meminimalisir kemungkinan
mengenai batu krikil, meskipun tidak tidak selamanya dapat aku hindari.
Bukan
seperti versi pandanganmu tentangku. Tidak sama sekali. Sekali lagi, aku bukan
ingin terlihat kuat dan hebat. Jujur saja aku masih jauh dari kedua kata itu.
Aku
tidak memaksamu untuk bisa memahami dan percaya akan penjelasanku yang hanya
terdengar seperti alasan bagimu, karena memang bukan itu tujuan ku. Aku juga
tidak peduli lagi dengan pendapatmu mengenai masalah ini. Sebab aku percaya,
aku memiliki Allah yang maha kaya yang jauh lebih besar dari masalah itu
sendiri.
Ini hanya intuisiku saja
Indralaya,
10 September 2017