Negeri Diatas Awan
Oleh : Anik Suliatri
Kurengkuh mesra
tatap fajar
Ada aroma teduh
mengunyah gaduh
Dijalur rimba
nan elok berjibun kesejukan
Akar-akar
menjerat tajam sehimpun harum pada pori yang telah dihembus
Daun-daun yang
tak bertulang pun ikut menari oleh bias angin
Ini bukan
sekedar pergantian musim semi
Secangkir kopi
yang kamu seduh pagi ini tak lain ialah buah kami
Maka, nikmat
Tuhanmu mana lagi yang kau dustakan ?!
Peradaban ini
hanya semacam permainan monopoli
Racikan
birokrasi bak wacana tak berarti
Sekelumit kisah
sadis akan berakhir sendiri tak perlu empati
Desak tanggung,
jawab saja dengan retorika
Beberapa
kompromi dalam janji dimensi ruangku ini
Pundi profit
masuk saku tabulasi
Tak kurang terus
melebih merotasi proposisi
Tatapan anyir
kepincangan tiang nafas menjemput keranda mati
Sebab kepulan
asap terus menyelimuti
Ribuan burung
menelan siulan dalam kebisuannya
Berjuta-juta
rimba hangus sampai kelumpuhan
Lalu bagaimana
dengan katak yang tak dapat melompat apalagi melarikan diri dari kurungan
api ?
Batin-batin
kecil kini matanya bias
Seolah ia telah
mampu riuh pada ayah dan ibu atas gugus rabun
Mulai samar,
bernanah dan berdarah pada kelopak indah dibola matanya
Tangis yang
runtut dalam labirin hati
Kesokan hari ia
telah pergi
Lalu, kemana
hilangnya pagi ku ini ?!
Didunia ini ada
orang sepertiku untuk menguji kesabaranmu
Aku adalah satu
dari ribuan sepertiku
Nukilan asap
merangkum luasnya lahan
Jalan termurah
dan mudah
Sebentar kawan,
semua akan lenyap mengudara diatas awan sungguhan
Datanglah
ketelagaku, disana ada udara segar penawar rindu
Pedulikah anda
untuk mengerti ?!
Sindir bait alam
kepundak memuncak pilu
Ketika kau
putuskan membakarnya
Getir manaksir
batin kecil tersingkir
Lihat !
bagaimana dengan nyawa yang telah mati ?!
Bagaimana dengan
penyakit yang terus menggerogoti tubuh kami ?!
Matahari pun
telah enggan menampakkan diri
Tak ada udara
segar dihari kami
Pagi, siang,
sore dan malam pun sama
Sama-sama pekat
dalam kepungan asap
Kemana perginya
hukum dinegeri ini ?!
Dari kaki bumi
mengintip panggung penari
Semenjak
bermimpi mulailah pengharapan
Benarkah salah
negeri bila ia jauh dari kepulan api ?!
Negeriku diatas
awan selaksa nyawa meradang
Tidakkah kalian
lihat pun hati ku lirih perih
Terseok-seok
dalam aturan yang tak bersimetri
Mungkin saja
harapan dan hargaku tak terlalu harus dihargai
#Indralaya, 2
November 2015