Minggu, 22 November 2015

Puisi Peragkap Mmpi



Perangkap Mimpi
Oleh : Anik Suliatri

Sungguh, lihatlah jejak selang waktu
Sedikit saja, bicara bercak memori
Ahh... bila dikutip
ada jala perangkap mimpi

tak berpulang jua kisah ini
melekat pada segelibat salah dihari kemarin
mangkir sedikit telah menganga luka
sebab laku meski terlontar maaf

dipinggir waktu, sejenak menyepi
menyapu binar kelam menjumputi asa
jangan banjiri diri dengan ratap
lalu sengsara seperti tak berkesudahan

lisan memang tak kan kembali
jangan lantas mengkerdilkan diri
lekaslah perbaiki sebelum mimpi beranjak pergi
lalu menyesal dikemudian hari

Minggu, 08 November 2015

Puisi Negeri Diatas Awan



Negeri Diatas Awan
Oleh : Anik Suliatri

Kurengkuh mesra tatap fajar
Ada aroma teduh mengunyah gaduh
Dijalur rimba nan elok berjibun kesejukan
Akar-akar menjerat tajam sehimpun harum pada pori yang telah dihembus
Daun-daun yang tak bertulang pun ikut menari oleh bias angin
Ini bukan sekedar pergantian musim semi
Secangkir kopi yang kamu seduh pagi ini tak lain ialah buah kami
Maka, nikmat Tuhanmu mana lagi yang kau dustakan ?!

Peradaban ini hanya semacam permainan monopoli
Racikan birokrasi bak wacana tak berarti
Sekelumit kisah sadis akan berakhir sendiri tak perlu empati
Desak tanggung, jawab saja dengan retorika
Beberapa kompromi dalam janji dimensi ruangku ini
Pundi profit masuk saku tabulasi
Tak kurang terus melebih merotasi proposisi

Tatapan anyir kepincangan tiang nafas menjemput keranda mati
Sebab kepulan asap terus menyelimuti
Ribuan burung menelan siulan dalam kebisuannya
Berjuta-juta rimba hangus sampai kelumpuhan
Lalu bagaimana dengan katak yang tak dapat melompat apalagi melarikan diri dari kurungan api  ?
Batin-batin kecil kini matanya bias
Seolah ia telah mampu riuh pada ayah dan ibu atas gugus rabun
Mulai samar, bernanah dan berdarah pada kelopak indah dibola matanya
Tangis yang runtut dalam labirin hati
Kesokan hari ia telah pergi
Lalu, kemana hilangnya pagi ku ini ?!

Didunia ini ada orang sepertiku untuk menguji kesabaranmu
Aku adalah satu dari ribuan sepertiku
Nukilan asap merangkum luasnya lahan
Jalan termurah dan mudah
Sebentar kawan, semua akan lenyap mengudara diatas awan sungguhan
Datanglah ketelagaku, disana ada udara segar penawar rindu

Pedulikah anda untuk mengerti ?!
Sindir bait alam kepundak memuncak pilu
Ketika kau putuskan membakarnya
Getir manaksir batin kecil tersingkir

Lihat ! bagaimana dengan nyawa yang telah mati ?!
Bagaimana dengan penyakit yang terus menggerogoti tubuh kami ?!
Matahari pun telah enggan menampakkan diri
Tak ada udara segar dihari kami
Pagi, siang, sore dan malam pun sama
Sama-sama pekat dalam kepungan asap
Kemana perginya hukum dinegeri ini ?!

Dari kaki bumi mengintip panggung penari
Semenjak bermimpi mulailah pengharapan
Benarkah salah negeri bila ia jauh dari kepulan api ?!
Negeriku diatas awan selaksa nyawa meradang
Tidakkah kalian lihat pun hati ku lirih perih
Terseok-seok dalam aturan yang tak bersimetri
Mungkin saja harapan dan hargaku tak terlalu harus dihargai

#Indralaya, 2 November 2015

Minggu, 01 November 2015

Puisi Mengeja Nama



Mengeja Nama
Oleh : Anik Suliatri

Sebilah rasa mengeja nama
Menjumputi hamburan doa
Lafal sedari hari lalu
Terlantun tiap detik kedipan

Tapaki asa ayah bunda
Beradu padu
Berdarai ombak tanpa awak
Ribuan himpitan lawan

Segugus impian menjadi senjata
Teringat tak pula membuat janji
Namun harus ada bukti
Bahwa sukses telah menanti